Pages

Sabtu, 03 Januari 2015

Pengertian Awan Cumolonimbus Yang Ditakuti Di Dunia Penerbangan

Duka mendalam kita rasakan untuk para korban Air Asia baik untuk korban dan keluarga yang ditinggalkan. Tak tepas dari itu masih banyak pertanyaan yang terlontar kenapa Air Asia QZ8501 bisa jatuh di Area Pangkalan Bun. Untuk jawaban resminya kita harus tunggu Basarnas untuk menyelidiki posisi dan mengambil Black Box di badan pesawat yang sampai hari ke 7 ini masih di evaluasi setelah Kapal Baruna 1 menemukan sensor logam dibawah laut. Dan semoga pencarian inilekas ditemukan.



Spekulasi mengenai penyebab hilangnya pesawat AirAsia QZ 8501 memang terus bermunculan, namun salah satu penyebab yang paling santer diperbincangkan adalah keberadaan awan berjenis cumolonimbus.

Kepala BMKG Andi Eka Satya menyebut bentuk awan tersebut memang tebal dan di dalamnya terdapat petir dan angin. Maka itu, tak heran jenis awan itu selalu dihindari pesawat.

Andi juga mengatakan bila lokasi awan Cumulonimbus saat kejadian hilang kontak pesawat AirAsia QZ 8501 itu berada di antara Belitung dan Kalimantan. Dari lokasi itu yang kita punya, memang sedang ada kumpulan awan yang tebal. Itu terjadi di sekitar Belitung sampai Kalimantan,” lansir merdeka.com (28/12).

Sementara itu, menurut Dr. Bruce Carmichael yang saat ini menjalankan program penerbangan di pusat penelitian National Center for Atmospheric Research, awan cumolonimbus bisa menimbulkan beberapa masalah pada pesawat yang tengah terbang melintasinya.


“Turbulensi, pembekuan bagian pesawat dan mesin, halilintar, angin sesar, dan aliran udara ekstrim yang bergerak ke atas dan bawah dapat muncul akibat awan cumolonimbus. Jadi, sederhanyanya, awan cumolonimbus adalah sumber bahaya bagi penerbangan,” ujar DR. Bruce, Wired (29/12).
1. Aliran Udara Ekstrim

Fenomena itu terjadi akibat perbedaan kecepatan angin yang yang berbeda di ketinggian tertentu. Aliran udara super kuat tersebut biasanya muncul saat sebuah awan badai atau cumolonimbus terbentuk.

Menurut ilmuwan, aliran udara itu dapat menghasilkan angin dengan kecepatan luar biasa, hingga 241 kilometer per jam. Dengan angin sekuat itu, bahkan pesawat terkuat pun bisa terhempas.



2. Turbelensi Udara

Turbulensi yang terjadi secara mendadak pada sebuah pesawat akibat kemunculan awan cumolonimbus dapat menyebabkan sebuah pesawat kehilangan tenaga.

Turbulensi sejatinya adalah guncangan-guncangan yang terjadi pada pesawat saat terbentur dengan massa udara yang datang dengan kecepatan tinggi. Jika diibaratkan, turbulensi mirip dengan menabrak polisi tidur saat tengah berkendara.

Namun, pesawat-pesawat modern sudah dilengkapi dengan badan yang tahan terhadap turbulensi. Akan tetapi, turbulensi sering kali menyebabkan cedera pada penumpang pesawat, terutama saat mereka tidak mengenakan sabuk pengaman. Pilot yang berpengalaman pun biasanya dapat mengatasi masalah ini atau mendarat darurat akibat masalah turbulensi.


3. Halilintar

Halilintar adalah komponen cuaca yang tidak bisa dipisahkan dari kehadiran awan cumolonimbus. Menurut badan keamanan penerbangan Amerika, FSF, setidaknya sebuah pesawat komersil terkena petir satu tahun sekali.

Akan tetapi, seringkali halilintar itu tidak menimbulkan masalah berbahaya bagi penumpang. Pesawat- pesawat modern pun sudah didesain untuk bertahan dari serangan halilintar.

Dalam beberapa badai super, halilintar yang dihasilkan dapat membuat pesawat mengalami masalah kelistrikan parah atau kerusakan badan pesawat yang mengakibatkannya jatuh. Untungnya kejadian seperti itu jarang terjadi hingga saat ini.


4. Hujan Es

Di daratan, awan cumolonimbus memang nampak cukup menakutkan dengan bentuknya yang bergerombol itu, namun di dalamnya jauh lebih mengerikan. Hujan es bisa terjadi dan dapat menyebabkan kerusakan parah pada badan pesawat.

Pada beberapa kasus, es yang masuk ke mesin pesawat juga bisa menyebabkannya mati dan memberikan masalah cukup serius bagi pilot meski dia sudah dilatih untuk mempertahankan pesawat dari hantaman kristal es.

Es pernah menyebabkan tragedi penerbangan, yakni jatuhnya pesawat Air France 447 di bulan Juni 2009 di samudra Atlantik.


Demikian sedikit info yang kami rangkum dari beberapa sumber, semoga dapat menjadikan pengetahuan kita.

/RedFlag/Info

0 komentar:

Posting Komentar